Alat Cetak Rengginang Buatan UGM


YOGYAKARTA - Dosen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknik Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogjakarta, menciptakan alat cetak praktis untuk membantu pengusaha usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak di bidang pembuatan rengginang-camilan tradisional berbahan dasar beras ketan.
Dengan alat cetakan itu, pembuatan rengginang yang memakan waktu lama serta jumlah produksi terbatas kini bisa teratasi. Makanan rengginang khususnya di Jawa sangat populer, sehingga pesanan selalu tjnggi. Namun, karena keterbatasan tenaga dan produksi, para pedagang sering kali tak bisa memenuhi pesanan,-kata pencipta alat itu, Prayitno Trmitono, kemarin.
Alat pencetak rengginang yang dikembangkan oleh Prayitno ini mampu meningkatkan kapasitas cetak Rengginang hingga dua kah lipat lebih dibandingkan dengan cetak manual. Setiap menit, satu pekerja mampu menghasilkan 4-5 buah rengginang atau 240-300 buah rengginang setiap ja/n. Sementara itu. dengan cara manual, setiap pekerja dalam satu menit hanya bisa menghasilkan 2 buah rengginang atau 120 buah rengginang per jam.
"Kapasitas cetak minimal 50 kilogram setiap hari. Dengan alat ini, dari satu kilogram bahan- beras ketan kukus- bisa dihasilkan sekitar 110-120 buah rengginang,- katanya.
Selain mudah penggunaannya, alat ini mampu menghemat biaya produksi karena dioperasikan tanpa listrik ataupun bahan bakar. Prayitno menjelaskan, pnnsip kerja alat cetak rengginangnya itu mengadopsi dan cara kerja penutup botol.
Alat ini terdiri atas kerangka yang terbuat dan besi cor, tiang dan besi as. kayu penekan, handle untuk menekan rengginang yang dicetak, meja dudukan alat, dan papan kayu pencetak.
Untuk membuat rengginang, beras ketan yang telah dikukus diisikan pada cetakan dalam papan pencetak. Kemudian pemadatan rengginang dilakukan dengan menank handle, sehingga kayu penekan turun dan memadatkan rengginang dalam cetakan. Selanjutnya rengginang bisa dikeluarkan dan cetakan untuk dikeringkan.
Alat cetak rengginang im telah diproduksi secara massal. Satu unitnya dipasarkan dengan harga Rp 2,5 juta. Ratusan pengusaha UKM, terutama di wilayah Sleman, pun telah memakai alat ini.
Sutiyem. pemilik UKM Rengginang Lestari Sleman, sangat terbantu oleh alat cetak itu. Dia mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat, sehingga tak perlu lagi menolak jika pesanan konsumen cukup banyak, khususnya saat han libur dan han raya. -Dulu produksi hanya 12 kilogram setiap han, sekarang satu hari bisa produksi 50 kilogram,- kata dia. 

Koran Tempo

Direktur Kemahasiswaan Lantik Pengurus UKM Tahun Periode 2012


Sekitar 100 orang mahasiswa dari 45 unit kegiatan mahasiswa (UKM) UGM dilantik sebagai pengurus UKM periode 2012 . Pelantikan dilakukan secara langsung oleh Direktur Kemahasiswaan UGM, Drs. Haryanto, M.Si., Kamis (26/1) di Auditorium Fakultas Biologi UGM. Selain itu juga dilantik kepengurusan baru pada Himpunan Mahasiswa Pascasarja (HMP) UGM.
Pelantikan pengurus UKM di lingkungan UGM berdasar pada Surat Keputusan (SK) Rektor No. 107/Dir.Mawa/SK/APK/2012 tertanggal 24 Januari 2012. Sementara untuk pelantikan kepengurusan HMP mengacu pada SK Rektor No. 111/Dir.Mawa/SK/APK/2012, tanggal 25 Januari 2012.
Haryanto menyebutkan dengan adanya pelantikan ini diharapkan bisa semakin mempermudah seluruh kegiatan yang diselenggarakan oleh UKM karena telah memiliki SK pengangkataan yang jelas. Ia juga menghimbau seluruh anggota UKM, untuk tetap memprioritaskan kuliahnya disamping berkegiatan di UKM . “UKM adalah bagian integral dari UGM dan merupakan perpanjangan tangan universitas dalam membentuk karakter serta softskill mahasiswa. Beroganisasi memang perlu, tetapi kuliah tetap jadi prioritas utama. Jangan sampai kuliahnya malah di UKM. Dijaga agar seimbang, IPK bagus, organisasi juga bagus,” harapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Haryanto juga berpesan kepada pengurus UKM baru agar bisa menjaga almamater dan nama baik UGM. “ Pada pengurus yang baru selamat mengemban amanah dan semoga bisa lebih banyak mengukir prestasi untuk UGM,” kata Haryanto.
Selepas pelantikan, para pengurus UKM baru diberikan pelatihan tentang kehumasan dan keprotokolan. Disamping itu juga diberikan pengarahan mengenai prosedur pengajuan ijin kegiatan serta pengajuan proposal bantuan dana.
ugm.ac.id

Topeng Diri (Refleksi Diri)

Topeng Diri (Refleksi Diri)
oleh: Ridwan Budiman

Seringnya memang saya menjadi orang menyebalkan
Gak tahu aturan
Sering kelayaban
Suka pergi-pergian
Gak betahan
Plus, anak begajulan

Gak layak dijadikan panutan
Apalagi inspirasi yang membanggakan

Kalau pun ada itu mungkin sekadar topeng yang dibalut keindahan
Topeng keshalehan yang dalamnya penuh kemunafikan
Topeng ke-ustadz-an yang lebih suka keburukan
Astaghfirulloh..

Kalau pun ada orang yang menganggap saya baik
Itu mungkin hanya polesan make-up setitik.
Setitik, dari busuknya wajah yang tertera dibalik

Ah, bukankah dunia ini memang panggung sandiwara
Penuh tipu daya, permainan, dan senda gurau belaka
Apa yang tampak bisa jadi bukan fakta sebenarnya
Apa yang terlihat bisa jadi membutakan mata dan telinga

Ya, sudahlah! Toh kalau pun saya buka topeng diri
Tak ada orang yang akan mau memahami
Lebih-lebih jika mereka tahu ternyata saya sebusuk ini
Tapi, aku yakin ada Dzat Yang Maha Memahami
Mengampuni, seluas langit dan bumi
Ku curhat kepada-Nya di sepertiga malam terakhir..

Rabb! Ampunkanlah hamba..

Sabar Dalam Mencari Ilmu


Bismillahhirrahmanirrahim….

Disebutkan pada suatu kisah pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang sangat sombong dan tamak. Raja itu mempunyai kerajaan yang sangat besar dengan seluruh rakyat yang selalu memuja raja tersebut dan menganggap raja itu sebagai Tuhan. Sewaktu itu Islam belum dikenal dan disebarkan. Sang raja mempunya ahli sihir yang selalu membantu dirinya, namun si ahli sihir itu sudah semakin tua dan harus segera ada pengganti dirinya. Raja pun mencari seorang pemuda yang mau belajar dari si ahli sihir itu agar setelah itu ia dapat menggantikan si ahli sihir untuk bekerja kepada sang raja. Akhirnya dipilihlah seorang pemuda yang nantinya akan dijadikan pengganti si ahli sihir tersebut. Setiap hari sang pemuda datang ke istana untuk belajar kepada si ahli sihir tersebut. Hari berganti hari, sang pemuda semakin tekun menjalani ilmu yang diajarkan oleh si ahli sihir itu. Suatu ketika, dalam perjalanan menuju ke istana, si pemuda beristirahat sejenak di sebuah tempat tua. Di sana ternyata ada seorang pendeta. Pemuda pun berkenalan dengan pendeta tersebut. Walaupun baru saja saling kenal, si pemuda dan pendeta sudah terlihat sangat akrab. Pemuda sudah banyak belajar dari sang pendeta. Karena hal inilah, pemuda menjadi terlambat datang ke istana untuk berlatih dengan si ahli sihir. Tentu saja si ahli sihir marah, terlebih ketika pemuda mengulangi hal tersebut berkali-kali, terlambat setiap kali datang latihan. Setiap harinya, sebelum datang ke istana si pemuda selalu mampir ke tempat si pendeta. Di sana ia belajar banyak hal, yang satu pasti adalah si pendeta mengajarkan ia tentang ajaran tauhid. Ya, ajaran tentang peracya bahwa tuhan itu ada, Tuhan itu satu, Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia. Begitu besar kuasaNya.


Walaupun, si pemuda selalu terlambat dan selalu mendapat marah dari si ahli sihir itu karena datang terlambat setiap kali latihan, si pemuda tak mau menyerah. Ia tetap saja berguru apada si pendeta itu. Bahkan, dengan akal cerdiknya ia membuat alasan atas keterlambatan dia kepada si ahli sihir itu, hingga akhirnya si ahli sihir itu dapat memakluminya. Akhirnya, setiap harinya kini si pemuda belajar dari kedua orang yang berbeda dengan ajaran yang sangat berbeda pula. Setelah sekian lama ia belajar dari kedua orang guru, si pemuda kini sudah menjadi ahli sihir sekligus ia juga telah mendalami ajaran dari sang pendeta. Suatu ketika, ia dipanggil oleh raja. Raja sangat terbelalak dan sangat keget, ketika si pemuda di suruhnya menyembah sang raja, si pemuda menolak. Bahkan ia mejelaskan bahwa tak ada yang lebih kuasa dari Tuhan pencipta alam semesta. Si raja pun marah besar, ia menyuruh pengawalnya menyeret si pemuda ke suatu padang pasir dan dipasungnya pemuda itu hingga menjadi tontonan para penduduk. Si raja tak langsung membunuh si pemuda itu, di berinya waktu kepada pemuda itu untuk kembali berpikir yang akhirnya dapat kembali memuja si raja. Namun, berbekal kekuatan yang ia dapatkan dari si pendeta, si pemuda tetap bersikukuh untuk tidak mau menyembah sang raja. Bagi dirinya, yang wajib disembah hanyalah Tuhan. Mendengar jawaban dari si pemuda yang tetap bersikukuh tidak mau menyembah dirinya sebgai raja, akhirnya sang raja menjatuhi hukuman mati kepada si pemuda tersebut. Si raja ingin kematian si penuda itu disaksikan oleh seluruh penduduk di negerinya. Maka dibawanya pemuda tadi ke suatu tanah lapang yang sangat luas dan dipenuhi oleh para penduduk negeri itu. Ketika itu, si pemuda hanya pasrah dan berdoa kepada Tuhan agar ditunjukkan jalan yang terbaik bagi dirinya. Saat si pemuda hendak dibunuh, ia berbicara kepada sang raja. “ raja, jika engkau ingin aku mati, kau bisa membunuhku dengan tanganmu sendiri,ketika engkau bunuh aku, ucapkanlah Demi Tuhan, pemuda yang ada di depanku ini akan mati “ si raja pun menyanggupinya, baginya si pemuda di depan dirinya ini harus segera mati. Maka, dengan disaksikan seluruh penduduk negeri itu sang raja dengan beucap Demi Tuhan, pemuda yang ada di depanku ini akan mati. Ketika itu pula Kuasa Tuhan bertindak, si pemuda saat itu juga mati. Penduduk yang menyaksikan hal itu seakan tak percaya, setelah melihat kejadian itu para penduduk menjadi berpikir bahwa sebenarnya yang berkuasa di dunia ini adalah Tuhan. Maka sejak saat itu, hampir semua penduduk tidak mau lagi menyembah kepada sang raja, dan mereka mulai belajar mengenai ajaran Tuhan.

Itulah salah satu contoh bagaimana kita harus bersabar dalam mencari ilmu. Layaknya si pemuda tadi, ia sangat sabar menjalani ilmu yang ia dapat, walaupun sebenarnya apa yang ia dapat adalah ilmu yang sangat bertentangan adanya. Tapi, semangat sang pemuda untuk mencari kebenaran selalu mendorongnya untuk tetap mencari ilmu. Hingga akhirnya ia menemukan kebenaran dari kedua ilmu yang ia dapatkan, bahkan di saat terakhir dalam hidupnya ia dapat menyampaikan ilmu itu dan membuktikan kepada seluruh penduduk di negeri itu tentang bagaimana ajaran yang benar dan harus mereka mengerti. 


Subhanallah….
Semoga dapat selalu menjadi motivasi bagi kita dalam mencari ilmu,aamiin……..


Oleh : Isti Noor Masita
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi UGM /2011

Belajar dari Dora The Explorer


Belajar dari Dora The Explorer


Berhasil, Berhasil, Hore..!!” :D
Tentu telinga kita semua tidak asing dengan nada khas dari film anak-anak asal Spanyol, Dora The Explorer. Sebuah siaran yang menyajikan hiburan untuk anak-anak dengan konsep perjalanan menuju suatu tempat, di temani seekor monyet bernama boots dan di ikuti oleh musuh yang bernama Sweeper. Memang siaran ini di tujukan untuk anak-anak, bukan untuk remaja atau orang-orang tua. Namun, tidak ada salahnya kita mengambil hikmah dari film, sekalipun itu film Dora The Explorer.

Dalam setiap serialnya, Dora selalu memiliki kegiatan di tempat yang jauh. Setiap serial selalu menceritakan tentang perjalanan si Dora. Dora selalu melewati beberapa rintangan, seperti : hutan, jembatan rusak dan lain-lain. Dan menariknya, persiapan Dora selalu pas dengan segala apa yang akan di hadapinya ! saat medan jalan membutuhkan tali, si ransel tersenyum lalu mengeluarkan tali. Saat medan jalan membutuhkan senter, ransel lagi-lagi tersenyum dan mengeluarkan senter. Selanjutnya, di tengah perjalanan Sweeper selalu akan menggoda Dora mengancam akan mengambil barang berharga yang di bawa Dora. Yah, walaupun usaha si Sweeper hampir selalu gagal di tiap episode, dia tetap selalu muncul di episode berikutnya.

Dari situ kita dapat mengambil satu hal menarik, bahwa Dora selalu mengetahui kemana arah perjalanannya berakhir. Rumah temannya kah, lokasi menarik kah, atau tempat-tempat yang lainnya. Dora juga mampu mengetahui medan-medan apa yang akan di hadapinya, dengan bantuan Peta. Dari situ pula, Dora mampu merumuskan apa-apa saja yang harus di bawanya agar perjalanannya lancar, dan isi ranselnya efisien sesuai dengan kebutuhan. Ini menjadi hal yang menarik.

Mengapa menarik? Karena sejatinya seperti itulah semestinya seseorang dalam menjalani hidup. Ia mesti tahu kemana arah tujuan hidupnya. Coba bayangkan, seandainya Dora tak tahu akan pergi kemana dia di satu episode, adakah episode Dora seperti itu? Tidak. Secara tidak langsung, Dora mengajarkan betapa pentingnya tujuan dalam sebuah perjalanan, dalam hal ini, izinkan saya menyebutkan, Dora mengajarkan kita betapa pentingnya seseorang memiliki tujuan dalam perjalanan hidupnya. Seandainya seseorang kehilangan tujuan, maka ranculah perjalanan..! bergerak tanpa arah. Sembarang belok sembarang putar setir, hingga akhirnya menemukan kejenuhan atau sekedar kehabisan bahan bakar.

Begitu pula sebuah organisasi atau jamaah. Tujuan, menjadi hal yang sangat penting bagi sebuah organisasi. Tanpa tujuan yang jelas, organisasi tentunya tidak akan menemukan jati diri. Bergerak sembarang lalu akan mati, mengapa? Karena ia takkan merasa berarti atas apa yang telah mereka hasilkan. Kenapa bisa begitu? Tujuan mereka rancu..! setiap orang bergerak semaunya, hingga akhirnya melemahkan tubuh organisasi itu sendiri. Izinkan saya katakan, sebuah organisasi tanpa tujuan, hanyalah bualan tanpa mampu menjadi kenyataan. Baiknya, bubarkan saja organisasi seperti itu.

Dengan tujuan yang mungkin sepele bagi kita, Dora lalu mampu merumuskan akan seperti apa medan yang ia lewati. Rintangan apa yang mungkin ia hadapi. Cobaan apa yang mungkin merintangi perjalanan panjang menuju keberhasilan tujuannya. Dari sini, Dora mengajarkan kepada kita bahwa memahami medan perjalanan (ma’rifatul maidan) sangatlah penting dalam hidup ini. Bagaimana mungkin seorang anak yang ingin menjadi pilot, tidak memahami bahwa ia tak baik jika memiliki penyakit takut ketinggian? Bagaimana mungkin seorang dokter bedah di izinkan untuk takut melihat darah? Itulah mengapa kita harus memahami bagaimana rintangan atau cobaan yang akan menuntut kita selama perjalanan hidup ini. Kita ingin menjadi insinyur? Kita mesti menyadari apa yang akan di bicarakan ketika kita menjadi insinyur nanti. Bagaimana kalau tidak siap menghadapi ujian atau medan yang berat? Tentu akan berguguran. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu di siapkan menghadapi medan berat, yaitu : Mental, Fisik, Bekal.

Jika kita tarik menjadi sebuah perjalanan jamaah atau organisasi, kita yang tergabung di dalamnya mestilah paham apa yang sangat mungkin menghadang kita di tengah jalan nanti. Memahami untuk menghadapi, bukan melarikan diri..! dari situ kita belajar menjadi seorang yang mau menghadapi resiko, bukan malah lari tunggang langgang ketika cobaan datang. Bukan malah mengeluh yang memuakkan ketika rintangan baru say hello sebentar. Di sinilah pembuktian bahwa kita ini bukan pengecut.

Selanjutnya, Dora bahkan bisa merumuskan bekal apa yang harus dia bawa untuk menghadapi rintangan yang akan dia hadapi. Senterkah, talikah, selendangkah, dan lain-lain sesuai apa yang akan Dora hadapi. Untuk apa? Tentu untuk kelancaran perjalanannya. Bayangkan ketika medan menuntut Dora untuk menyalakan senter karena cahaya mentari tak mampu menembus hutan, dan Dora tidak membawa senter, akankah episode Dora gagal itu tampil..? saya rasa, saya belum pernah melihat episode Dora mengalami kegagalan (kecuali akan bersambung). Menarik bukan? Secara tersirat, Dora mengajarkan kita untuk selalu menyiapkan bekal dalam perjalanan hidup!

Begitu pula perjalanan sebuah jamaah. Pejuangnya mesti menyiapkan bekal sebaik mungkin dan serelevan mungkin dengan apa yang akan jamaah itu hadapi. Kita mesti menyiapkan bekal sebaik mungkin untuk menghadapi rintangan yang akan menantang kita. Demi kelancaran perjalanan hidup kita, demi kelancaran perjalanan jamaah. Ini penting, karena seorang musafir yang kehabisan bekal akan sangat merasa tersiksa. Nggak percaya? Silahkan coba bepergian dengan bekal seadanya, lalu keliling dunia. Saat mencapai titik kehabisan bekal, di situlah timbul kemungkinan muncul rasa ‘menyesal’ telah melakukan perjalanan. Dan itu berbahaya. Terlebih ketika kita merasa menyesal telah di lahirkan ke dunia. Naudzubillah min dzalik.

Selanjutnya, Dora akan melakukan perjalanan. Dan di temani oleh temannya yang seekor monyet, Boots. Teman setia yang selalu membantu Dora. Kalau kita perhatikan, kita tidak pernah melihat Dora dan Boots kehilangan senyum sepanjang perjalanan. Kita tidak pernah melihat Boots menyalahkan Dora, begitu pula sebaliknya. Saling percaya, itu juga menjadi hal penting dalam persahabatan dalam sebuah perjalanan panjang. Kebahagiaan, menjadi syarat sesulit apapun perjalanan akan terasa mudah, terlebih bersama sahabat perjuangan.
 
Selain rintangan dari medan, rupanya Dora juga memiliki musuh yang selalu berusaha mencuri dan mengganggu perjalanan, Sweeper. Selalu ada masa di mana Sweeper muncul lalu mengganggu. Menarik. Ini persis dengan perjalanan hidup. Syethan juga seperti itu bukan. Selalu mengintai, menanti waktu yang tepat untuk muncul. Maka, kesiapan pribadi kita mestilah mampu menghadapi godaan syetan yang terkutuk. Sehalus apapun tipu daya syetan, kita di tuntut untuk mampu membedakannya. Ini penting. Karena begitu banyak pejuang kebaikan akhirnya tergelincir jatuh ke kubangan dosa karena bisikan halus syetan, terlebih di saat tujuan hampir tercapai. Bukankah Sweeper muncul di saat Dora tinggal beberapa langkah lagi mencapai tempat tujuan?

Maka bagi kehidupan kita, bagi sebuah jamaah, Tujuan adalah kebutuhan penting yang utama. Kemudian, merumuskan medan, mempersiapkan mental, fisik dan bekal. Lalu berbahagia sepanjang jalan, dan mencari teman agar tak sendiri berjuang. Setidaknya, itu yang Dora ajarkan kepada penikmatnya, anak-anak. Setidaknya, itu yang dapat kita ambil dari Dora The Explorer.
Wallahu ‘alam....
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ditulis oleh: Yanuar Rizki Pahlevi
Mahasiswa Fisika Teknik UGM angkatan 2009, Ketua BEM KMFT UGM 2012
Twitter Facebook 


Konser Djogjakarta Islamic Orchestra feat Edcoustic


Yogyakarta – Konser Djogjakarta Islamic Orchestra feat Edcoustic, yang diselenggarakan pada tanggal 22 Januari 2012 pukul 19.30 di Hall Taman Budaya Yogyakarta, menjadi perhelatan puncak dari rangkaian acara Festival Seni Islami KMI ISI Yogyakarta yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 Januari 2012 di Benteng Vredeburg. Serangkaian acara Festival Seni Islami KMI ISI yang terdiri dari Rumah Tahfidz Fair, Pameran Seni Visual Islami, Parade Nasyid Donor Darah, Lomba Fashion Show dan Kreasi Jilbab, Lomba Hadroh, Lomba Melukis, Talk Show, Drama Musikal, dan Pawai Sedekah, dipungkasi dengan sebuah suguhan musik yang menawan.

Dalam pertunjukan musik tersebut, tidak kurang dari 10 lagu dibawakan, 6 di antaranya adalah Tuhan, Sedekah, Tak Kan Berpaling Dari-Mu, Ketika Tangan dan Kaki Bicara, Kupinang Kau dengan Bismillah, dan Petuah Hati. Semua lagu tersebut dibawakan dengan suara vokal yang terasah dan diiringi dengan alunan suara orkestra yang megah. Hampir semua lagu diaransemen ulang oleh rekan-rekan mahasiswa Fakultas Seni Musik ISI Yogyakarta. Sehingga lagu-lagu tersebut semakin “segar” dan enak didengar.

Empat lagu lainnya dibawakan oleh bintang tamu istimewa, yang didatangkan langsung dari Bandung. Edcoustic yang pada malam itu hadir dengan dua personil, Aden dan Egie, membawakan lagu-lagu, antara lain yang berjudul Aku Ingin Mencintai-Mu, Pertengkaran Kecil, Jalan Masih Panjang, dan Muhasabah Cinta. Keempat lagu tersebut dibawakan dengan suara indah, seakan mampu menghanyutkan penonton ke dalam setiap liriknya. Orkestra dan suara vokal begitu harmonis berpadu, menghasilkan kualitas suguhan musik yang bermutu.

Konser Djogjakarta Islamic Orchestra feat Edcoustic, bisa dibilang mendapat sambutan yang positif dari masyarakat secara umum. Walaupun penonton masih didominasi oleh kalangan mahasiswa, namun beberapa warga umum juga hadir dan menikmati pertunjukan musik Islami tersebut. Hall Taman Budaya Yogyakarta yang luas, yang dilengkapi tak kurang dari 600 kursi, hampir terisi seluruhnya. Penonton pun tidak beranjak sebelum pertunjukan musik rampung dan ditutup oleh Sang Empunya acara, Master of Ceremony (MC).

Dibungkus dengan nuansa Islami, pertunjukan musik ini dibuka dengan lafadz “Bismillah” dan tilawah yang dibawakan oleh empat gadis kecil bergaun putih, calon Hafidzah dari PPPA Darul Qur’an. Tempat duduk untuk penonton putra dan putri pun juga dipisah. Seluruh rangkaian acara Festival Seni Islami merupakan hasil kerjasama antara PPPA Darul Qur’an, Pand’s Collection, dan KMI ISI Yogyakarta serta dengan dukungan dari beberapa pihak lainnya.

Walaupun diusung dengan kemasan yang Islami, namun berlangsungnya acara tidak lepas dari keceriaan dan kejenakaan yang diciptakan oleh dua orang pembawa acara (MC) yang piawai menghadirkan guyonan-guyonan yang menghibur. Selain itu, penonton juga diajak berinteraksi dengan permainan sederhana dan doorprize yang menggoda. Sehingga sampai pukul 22.30 penonton masih “terjaga” untuk menyaksikan pertunjukan musik selanjutnya.

Konser Djogjakarta Islamic Orchestra feat Edcoustic yang diselenggarakan bukan hanya sekedar pertunjukan musik Islami yang biasa. Lebih dari itu, konser ini merupakan titik cerah bagi perbaikan kualitas suguhan musik di Indonesia. Diharapkan pertunjukan musik Islami yang diselanggarakan oleh rekan-rekan KMI ISI Yogyakarta dapat memberikan ilham bagi masyarakat muslim untuk lebih mencintai musik religi, sebagai salah satu perantara kita untuk mengingat Allah SWT. Bukan menjadi rahasia lagi jika pasar bermusik Indonesia senantiasa didominasi dengan tema-tema percintaan dan romansa antar manusia. Hanya sesekali saja tema sosial mampu mengambil hati masyarakat, yang beberapa diantaranya dipopulerkan oleh Iwan Fals dan Ebiet G Ade. Sedangkan untuk lagu bertema religi sendiri cenderung bersifat “musiman”, yaitu gencar dielu-elukan saat menjelang Ramadhan. Selebihnya, terlantar dan cenderung diabaikan.

Konser ini juga memberikan keoptimisan bahwa musik religi mampu bersaing dalam pasar musik nasional maupun internasional. Sudah ada sebuah isyarat positif, salah satunya adalah mulai dikenalnya lagu-lagu Maher Zain di Indonesia, yang lagu-lagunya sudah akrab di telinga masyarakat kita kini.

Harapan untuk menjunjung popularitas musik Islami jelas telah dipunggawai oleh segenap rekan-rekan mahasiswa Fakultas Seni Musik ISI Yogyakarta, yang mempunyai kualitas dan kemampuan mumpuni untuk menghasilkan sebuah karya yang pantas disandingkan dengan karya-karya musisi Islam lainnya. Dalam dunia dakwah kini, kesenian, entah itu musik, lukisan, desain visual, dan lain sebagainya, merupakan sebuah instrumen briliant yang mampu menjadi perantara dakwah efektif. Kesenian, entah apapun itu bentuknya, merupakan sebuah peluang dakwah yang luas, ladang pahala yang subur, yang siap digarap oleh para penggiat dakwah kebanggaan, segenap Seniman Beriman.  (Ananda)



Ustadz Didik Purwodarsono: Menyikapi Fitnah Akhir Zaman (part 1) | KRPH 12 Jan 2012





Tanda-tanda kehancuran peradaban Islam di akhir zaman:

1. Ketika Islam benar-benar kembali asing, bahkan bagi muslim sendiri. Islam tinggal nama, tinggal formalitas tanpa realitas. Al Quran hanya tinggal tulisan, tidak boleh mengatur negara bahkan bagaimana manusia berpakaian.

2. Masjid megah mewah tapi sepi akan hidayah.

3. Banyak ulama jahat yang membingungkan umat dan punya banyak kepentingan pribadi serta golongan.

4. Muslim menjadi mayoritas tapi berkualitas rendah, ibarat buih di lautan. Menderita penyakit wahn: cinta dunia dan takut mati.




Media belajar Islam: dari kajian ke kajian, dari masjid ke masjid, dari majelis ilmu ke majelis ilmu lainnya. Rekaman video sederhana di Kajian Channel ini diambil dari berbagai kajian Islam di Yogyakarta.