Masjid Mardliyyah, Masjid Donor Darah
Jogja Islamic Book Fair 2012
Shalahuddin UGM, Jilbab dan Indonesia
Ilmuwan MITI Temukan Alat Pembasmi Kanker
Masjid Mardliyyah, Masjid Donor Darah
“Setiap aktivis di Jogja, kalau tidak kenal dengan Mardliyyah, ibarat orang Jakarta tapi tidak kenal Monas, read more
Jogja Islamic Book Fair 2012
Pameran buku Islam terbesar dan terlengkap, 17th Jogja Islamic Book Fair 2012 29 Januari-5 Februari 2012 read more
Shalahuddin UGM, Jilbab dan Indonesia
Pentas Lautan Jilbab yang diselenggarakan Jama’ah Shalahuddin sekitar 1986/89 (tolong dikoreksi) telah mengubah peta perempuan di Indonesia. read more
Ilmuwan MITI Temukan Alat Pembasmi Kanker
Mantan Menristek, Suharna Surapranata, menyambut baik temuan dari tim CTech dan MITI ini. Menurut dia, perlu kajian lebih lanjut dan partisipasi banyak pihak yang berkepentingan guna mendapatkan hasil yang lebih baik. read more
Alat Cetak Rengginang Buatan UGM
Direktur Kemahasiswaan Lantik Pengurus UKM Tahun Periode 2012
Topeng Diri (Refleksi Diri)
Sabar Dalam Mencari Ilmu
Disebutkan pada suatu kisah pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang sangat sombong dan tamak. Raja itu mempunyai kerajaan yang sangat besar dengan seluruh rakyat yang selalu memuja raja tersebut dan menganggap raja itu sebagai Tuhan. Sewaktu itu Islam belum dikenal dan disebarkan. Sang raja mempunya ahli sihir yang selalu membantu dirinya, namun si ahli sihir itu sudah semakin tua dan harus segera ada pengganti dirinya. Raja pun mencari seorang pemuda yang mau belajar dari si ahli sihir itu agar setelah itu ia dapat menggantikan si ahli sihir untuk bekerja kepada sang raja. Akhirnya dipilihlah seorang pemuda yang nantinya akan dijadikan pengganti si ahli sihir tersebut. Setiap hari sang pemuda datang ke istana untuk belajar kepada si ahli sihir tersebut. Hari berganti hari, sang pemuda semakin tekun menjalani ilmu yang diajarkan oleh si ahli sihir itu. Suatu ketika, dalam perjalanan menuju ke istana, si pemuda beristirahat sejenak di sebuah tempat tua. Di sana ternyata ada seorang pendeta. Pemuda pun berkenalan dengan pendeta tersebut. Walaupun baru saja saling kenal, si pemuda dan pendeta sudah terlihat sangat akrab. Pemuda sudah banyak belajar dari sang pendeta. Karena hal inilah, pemuda menjadi terlambat datang ke istana untuk berlatih dengan si ahli sihir. Tentu saja si ahli sihir marah, terlebih ketika pemuda mengulangi hal tersebut berkali-kali, terlambat setiap kali datang latihan. Setiap harinya, sebelum datang ke istana si pemuda selalu mampir ke tempat si pendeta. Di sana ia belajar banyak hal, yang satu pasti adalah si pendeta mengajarkan ia tentang ajaran tauhid. Ya, ajaran tentang peracya bahwa tuhan itu ada, Tuhan itu satu, Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia. Begitu besar kuasaNya.
Itulah salah satu contoh bagaimana kita harus bersabar dalam mencari ilmu. Layaknya si pemuda tadi, ia sangat sabar menjalani ilmu yang ia dapat, walaupun sebenarnya apa yang ia dapat adalah ilmu yang sangat bertentangan adanya. Tapi, semangat sang pemuda untuk mencari kebenaran selalu mendorongnya untuk tetap mencari ilmu. Hingga akhirnya ia menemukan kebenaran dari kedua ilmu yang ia dapatkan, bahkan di saat terakhir dalam hidupnya ia dapat menyampaikan ilmu itu dan membuktikan kepada seluruh penduduk di negeri itu tentang bagaimana ajaran yang benar dan harus mereka mengerti.
Semoga dapat selalu menjadi motivasi bagi kita dalam mencari ilmu,aamiin……..
Belajar dari Dora The Explorer
Dalam setiap serialnya, Dora selalu memiliki kegiatan di tempat yang jauh. Setiap serial selalu menceritakan tentang perjalanan si Dora. Dora selalu melewati beberapa rintangan, seperti : hutan, jembatan rusak dan lain-lain. Dan menariknya, persiapan Dora selalu pas dengan segala apa yang akan di hadapinya ! saat medan jalan membutuhkan tali, si ransel tersenyum lalu mengeluarkan tali. Saat medan jalan membutuhkan senter, ransel lagi-lagi tersenyum dan mengeluarkan senter. Selanjutnya, di tengah perjalanan Sweeper selalu akan menggoda Dora mengancam akan mengambil barang berharga yang di bawa Dora. Yah, walaupun usaha si Sweeper hampir selalu gagal di tiap episode, dia tetap selalu muncul di episode berikutnya.
Dari situ kita dapat mengambil satu hal menarik, bahwa Dora selalu mengetahui kemana arah perjalanannya berakhir. Rumah temannya kah, lokasi menarik kah, atau tempat-tempat yang lainnya. Dora juga mampu mengetahui medan-medan apa yang akan di hadapinya, dengan bantuan Peta. Dari situ pula, Dora mampu merumuskan apa-apa saja yang harus di bawanya agar perjalanannya lancar, dan isi ranselnya efisien sesuai dengan kebutuhan. Ini menjadi hal yang menarik.
Mengapa menarik? Karena sejatinya seperti itulah semestinya seseorang dalam menjalani hidup. Ia mesti tahu kemana arah tujuan hidupnya. Coba bayangkan, seandainya Dora tak tahu akan pergi kemana dia di satu episode, adakah episode Dora seperti itu? Tidak. Secara tidak langsung, Dora mengajarkan betapa pentingnya tujuan dalam sebuah perjalanan, dalam hal ini, izinkan saya menyebutkan, Dora mengajarkan kita betapa pentingnya seseorang memiliki tujuan dalam perjalanan hidupnya. Seandainya seseorang kehilangan tujuan, maka ranculah perjalanan..! bergerak tanpa arah. Sembarang belok sembarang putar setir, hingga akhirnya menemukan kejenuhan atau sekedar kehabisan bahan bakar.
Begitu pula sebuah organisasi atau jamaah. Tujuan, menjadi hal yang sangat penting bagi sebuah organisasi. Tanpa tujuan yang jelas, organisasi tentunya tidak akan menemukan jati diri. Bergerak sembarang lalu akan mati, mengapa? Karena ia takkan merasa berarti atas apa yang telah mereka hasilkan. Kenapa bisa begitu? Tujuan mereka rancu..! setiap orang bergerak semaunya, hingga akhirnya melemahkan tubuh organisasi itu sendiri. Izinkan saya katakan, sebuah organisasi tanpa tujuan, hanyalah bualan tanpa mampu menjadi kenyataan. Baiknya, bubarkan saja organisasi seperti itu.
Dengan tujuan yang mungkin sepele bagi kita, Dora lalu mampu merumuskan akan seperti apa medan yang ia lewati. Rintangan apa yang mungkin ia hadapi. Cobaan apa yang mungkin merintangi perjalanan panjang menuju keberhasilan tujuannya. Dari sini, Dora mengajarkan kepada kita bahwa memahami medan perjalanan (ma’rifatul maidan) sangatlah penting dalam hidup ini. Bagaimana mungkin seorang anak yang ingin menjadi pilot, tidak memahami bahwa ia tak baik jika memiliki penyakit takut ketinggian? Bagaimana mungkin seorang dokter bedah di izinkan untuk takut melihat darah? Itulah mengapa kita harus memahami bagaimana rintangan atau cobaan yang akan menuntut kita selama perjalanan hidup ini. Kita ingin menjadi insinyur? Kita mesti menyadari apa yang akan di bicarakan ketika kita menjadi insinyur nanti. Bagaimana kalau tidak siap menghadapi ujian atau medan yang berat? Tentu akan berguguran. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu di siapkan menghadapi medan berat, yaitu : Mental, Fisik, Bekal.
Jika kita tarik menjadi sebuah perjalanan jamaah atau organisasi, kita yang tergabung di dalamnya mestilah paham apa yang sangat mungkin menghadang kita di tengah jalan nanti. Memahami untuk menghadapi, bukan melarikan diri..! dari situ kita belajar menjadi seorang yang mau menghadapi resiko, bukan malah lari tunggang langgang ketika cobaan datang. Bukan malah mengeluh yang memuakkan ketika rintangan baru say hello sebentar. Di sinilah pembuktian bahwa kita ini bukan pengecut.
Selanjutnya, Dora bahkan bisa merumuskan bekal apa yang harus dia bawa untuk menghadapi rintangan yang akan dia hadapi. Senterkah, talikah, selendangkah, dan lain-lain sesuai apa yang akan Dora hadapi. Untuk apa? Tentu untuk kelancaran perjalanannya. Bayangkan ketika medan menuntut Dora untuk menyalakan senter karena cahaya mentari tak mampu menembus hutan, dan Dora tidak membawa senter, akankah episode Dora gagal itu tampil..? saya rasa, saya belum pernah melihat episode Dora mengalami kegagalan (kecuali akan bersambung). Menarik bukan? Secara tersirat, Dora mengajarkan kita untuk selalu menyiapkan bekal dalam perjalanan hidup!
Begitu pula perjalanan sebuah jamaah. Pejuangnya mesti menyiapkan bekal sebaik mungkin dan serelevan mungkin dengan apa yang akan jamaah itu hadapi. Kita mesti menyiapkan bekal sebaik mungkin untuk menghadapi rintangan yang akan menantang kita. Demi kelancaran perjalanan hidup kita, demi kelancaran perjalanan jamaah. Ini penting, karena seorang musafir yang kehabisan bekal akan sangat merasa tersiksa. Nggak percaya? Silahkan coba bepergian dengan bekal seadanya, lalu keliling dunia. Saat mencapai titik kehabisan bekal, di situlah timbul kemungkinan muncul rasa ‘menyesal’ telah melakukan perjalanan. Dan itu berbahaya. Terlebih ketika kita merasa menyesal telah di lahirkan ke dunia. Naudzubillah min dzalik.
Selanjutnya, Dora akan melakukan perjalanan. Dan di temani oleh temannya yang seekor monyet, Boots. Teman setia yang selalu membantu Dora. Kalau kita perhatikan, kita tidak pernah melihat Dora dan Boots kehilangan senyum sepanjang perjalanan. Kita tidak pernah melihat Boots menyalahkan Dora, begitu pula sebaliknya. Saling percaya, itu juga menjadi hal penting dalam persahabatan dalam sebuah perjalanan panjang. Kebahagiaan, menjadi syarat sesulit apapun perjalanan akan terasa mudah, terlebih bersama sahabat perjuangan.
Maka bagi kehidupan kita, bagi sebuah jamaah, Tujuan adalah kebutuhan penting yang utama. Kemudian, merumuskan medan, mempersiapkan mental, fisik dan bekal. Lalu berbahagia sepanjang jalan, dan mencari teman agar tak sendiri berjuang. Setidaknya, itu yang Dora ajarkan kepada penikmatnya, anak-anak. Setidaknya, itu yang dapat kita ambil dari Dora The Explorer.
Mahasiswa Fisika Teknik UGM angkatan 2009, Ketua BEM KMFT UGM 2012
Twitter Facebook
Konser Djogjakarta Islamic Orchestra feat Edcoustic
Ustadz Didik Purwodarsono: Menyikapi Fitnah Akhir Zaman (part 1) | KRPH 12 Jan 2012
Tanda-tanda kehancuran peradaban Islam di akhir zaman:
1. Ketika Islam benar-benar kembali asing, bahkan bagi muslim sendiri. Islam tinggal nama, tinggal formalitas tanpa realitas. Al Quran hanya tinggal tulisan, tidak boleh mengatur negara bahkan bagaimana manusia berpakaian.
2. Masjid megah mewah tapi sepi akan hidayah.
3. Banyak ulama jahat yang membingungkan umat dan punya banyak kepentingan pribadi serta golongan.
4. Muslim menjadi mayoritas tapi berkualitas rendah, ibarat buih di lautan. Menderita penyakit wahn: cinta dunia dan takut mati.
Media belajar Islam: dari kajian ke kajian, dari masjid ke masjid, dari majelis ilmu ke majelis ilmu lainnya. Rekaman video sederhana di Kajian Channel ini diambil dari berbagai kajian Islam di Yogyakarta.





















