Senin, 23 Januari 2012

Konser Djogjakarta Islamic Orchestra feat Edcoustic


Yogyakarta – Konser Djogjakarta Islamic Orchestra feat Edcoustic, yang diselenggarakan pada tanggal 22 Januari 2012 pukul 19.30 di Hall Taman Budaya Yogyakarta, menjadi perhelatan puncak dari rangkaian acara Festival Seni Islami KMI ISI Yogyakarta yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 Januari 2012 di Benteng Vredeburg. Serangkaian acara Festival Seni Islami KMI ISI yang terdiri dari Rumah Tahfidz Fair, Pameran Seni Visual Islami, Parade Nasyid Donor Darah, Lomba Fashion Show dan Kreasi Jilbab, Lomba Hadroh, Lomba Melukis, Talk Show, Drama Musikal, dan Pawai Sedekah, dipungkasi dengan sebuah suguhan musik yang menawan.

Dalam pertunjukan musik tersebut, tidak kurang dari 10 lagu dibawakan, 6 di antaranya adalah Tuhan, Sedekah, Tak Kan Berpaling Dari-Mu, Ketika Tangan dan Kaki Bicara, Kupinang Kau dengan Bismillah, dan Petuah Hati. Semua lagu tersebut dibawakan dengan suara vokal yang terasah dan diiringi dengan alunan suara orkestra yang megah. Hampir semua lagu diaransemen ulang oleh rekan-rekan mahasiswa Fakultas Seni Musik ISI Yogyakarta. Sehingga lagu-lagu tersebut semakin “segar” dan enak didengar.

Empat lagu lainnya dibawakan oleh bintang tamu istimewa, yang didatangkan langsung dari Bandung. Edcoustic yang pada malam itu hadir dengan dua personil, Aden dan Egie, membawakan lagu-lagu, antara lain yang berjudul Aku Ingin Mencintai-Mu, Pertengkaran Kecil, Jalan Masih Panjang, dan Muhasabah Cinta. Keempat lagu tersebut dibawakan dengan suara indah, seakan mampu menghanyutkan penonton ke dalam setiap liriknya. Orkestra dan suara vokal begitu harmonis berpadu, menghasilkan kualitas suguhan musik yang bermutu.

Konser Djogjakarta Islamic Orchestra feat Edcoustic, bisa dibilang mendapat sambutan yang positif dari masyarakat secara umum. Walaupun penonton masih didominasi oleh kalangan mahasiswa, namun beberapa warga umum juga hadir dan menikmati pertunjukan musik Islami tersebut. Hall Taman Budaya Yogyakarta yang luas, yang dilengkapi tak kurang dari 600 kursi, hampir terisi seluruhnya. Penonton pun tidak beranjak sebelum pertunjukan musik rampung dan ditutup oleh Sang Empunya acara, Master of Ceremony (MC).

Dibungkus dengan nuansa Islami, pertunjukan musik ini dibuka dengan lafadz “Bismillah” dan tilawah yang dibawakan oleh empat gadis kecil bergaun putih, calon Hafidzah dari PPPA Darul Qur’an. Tempat duduk untuk penonton putra dan putri pun juga dipisah. Seluruh rangkaian acara Festival Seni Islami merupakan hasil kerjasama antara PPPA Darul Qur’an, Pand’s Collection, dan KMI ISI Yogyakarta serta dengan dukungan dari beberapa pihak lainnya.

Walaupun diusung dengan kemasan yang Islami, namun berlangsungnya acara tidak lepas dari keceriaan dan kejenakaan yang diciptakan oleh dua orang pembawa acara (MC) yang piawai menghadirkan guyonan-guyonan yang menghibur. Selain itu, penonton juga diajak berinteraksi dengan permainan sederhana dan doorprize yang menggoda. Sehingga sampai pukul 22.30 penonton masih “terjaga” untuk menyaksikan pertunjukan musik selanjutnya.

Konser Djogjakarta Islamic Orchestra feat Edcoustic yang diselenggarakan bukan hanya sekedar pertunjukan musik Islami yang biasa. Lebih dari itu, konser ini merupakan titik cerah bagi perbaikan kualitas suguhan musik di Indonesia. Diharapkan pertunjukan musik Islami yang diselanggarakan oleh rekan-rekan KMI ISI Yogyakarta dapat memberikan ilham bagi masyarakat muslim untuk lebih mencintai musik religi, sebagai salah satu perantara kita untuk mengingat Allah SWT. Bukan menjadi rahasia lagi jika pasar bermusik Indonesia senantiasa didominasi dengan tema-tema percintaan dan romansa antar manusia. Hanya sesekali saja tema sosial mampu mengambil hati masyarakat, yang beberapa diantaranya dipopulerkan oleh Iwan Fals dan Ebiet G Ade. Sedangkan untuk lagu bertema religi sendiri cenderung bersifat “musiman”, yaitu gencar dielu-elukan saat menjelang Ramadhan. Selebihnya, terlantar dan cenderung diabaikan.

Konser ini juga memberikan keoptimisan bahwa musik religi mampu bersaing dalam pasar musik nasional maupun internasional. Sudah ada sebuah isyarat positif, salah satunya adalah mulai dikenalnya lagu-lagu Maher Zain di Indonesia, yang lagu-lagunya sudah akrab di telinga masyarakat kita kini.

Harapan untuk menjunjung popularitas musik Islami jelas telah dipunggawai oleh segenap rekan-rekan mahasiswa Fakultas Seni Musik ISI Yogyakarta, yang mempunyai kualitas dan kemampuan mumpuni untuk menghasilkan sebuah karya yang pantas disandingkan dengan karya-karya musisi Islam lainnya. Dalam dunia dakwah kini, kesenian, entah itu musik, lukisan, desain visual, dan lain sebagainya, merupakan sebuah instrumen briliant yang mampu menjadi perantara dakwah efektif. Kesenian, entah apapun itu bentuknya, merupakan sebuah peluang dakwah yang luas, ladang pahala yang subur, yang siap digarap oleh para penggiat dakwah kebanggaan, segenap Seniman Beriman.  (Ananda)