Masjid memang harus memberi manfaat bagi masyarakat. Seperti masjid Mardliyyah yang selalu membuka harapan bagi para pencari darah.
Hari beranjak siang. Adzan Dzuhur berkumandang. Puluhan jama’ah, yang sebagian besar adalah mahasiswa dan pegawai Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta, bergegas menuju masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit dan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Masjid yang dituju adalah Masjid Mardliyyah. Masjid yang berdiri sejak tahun 1968 ini dikelola sepenuhnya oleh mahasiswa.
Usai shalat Dzuhur, Takmir Masjid Mardliyyah mengumumkan sebuah berita kepada para jama’ah, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saat ini ada yang membutuhkan golongan darah O. bagi jamaah yang ingin menjadi pendonor, silahkan menghubungi takmir. Terimakasih.” Pemandangan ini nyaris terjadi setiap usai shalat. Tak terkecuali shalat Shubuh. Memang, sejak belasan, bahkan mungkin puluhan tahun lalu, Masjid Mardliyyah menjadi rujukan PMI dan Rumah Sakit Dr. Sardjito untuk mendapatkan darah.
Setiap hari, paling tidak ada 5-7 permintaan darah. Memang, Masjid Mardliyyah seringkali kebanjiran permintaan untuk menjadi pendonor. Menurut salah seorang pengurus takmir, Adhi Fibrian, mereka yang dating ke masjid ini biasanya adalah pasien atau keluarga pasien yang kondisinya sedang membutuhkan darah, “Biasanya yang dating itu pasien yang baru pertama kali dating ke Rumah Sakit Sardjito. Biasanya oleh PMI disarankan untuk dating ke masjid,” ujar Adhi kepada Tarbawi.
Untuk mendapatkan pendonor, selain melalui pengumuman usai shalat berjamaah, juga lewat pesan singkat atau SMS berantai. Jika asa jamaah yang berminat untuk mendonorkan darahnya, dia diminta melapor ke takmir, kemudian mengisi formulir. “Di situ mereka menulis nama, alamat, nomor telepon, golongan darah, dan kapan terakhir kali mendonorkan darahnya. Dan formulir itu sekaligus jadi database kami,” lanjut mahasiswa UGM jurusan Teknik Kimia ini.
Calon pendonor yang akan diambil darahnya, mengambil formulir di secretariat. Setelah itu, mereka diantar ke PMI RS Sardjito yang letaknya bersebelahan dengan Masjid Mardliyyah untuuk menjalani serangkaian pemeriksaan, seperti pemeriksaan jumlah haemoglobin (Hb) dan tekanan darah.
Karena banyaknya permintaan darah, terutama di bulan Ramadhan, seringkali pengurus Masjid Mardliyyah kewalahan melayani permintaan donor darah dari pasien. “Kadang, kalau permintaan banyak, kami menghubungi nama-nama yang tercantum di dalam formulir. Sering juga ada yang menolak, entah karena kurang berani, berat badan kurang, atau karena sedang berada di luar kota.” Lanjut Adhi yang rutin men donorkan darahnya.
Setiap orang yang mendonorkan darahnya, tidak pernah berharap mendapatkan imbalan apapun. “Jika ada yang memberikan imbalan, biasanya oleh pendonor akan dimasukkan ke kotak infaq masjid,” tambah pria asal Blora, Jawa Tengah ini.
Dulu, tahun 1990-an, ketika pergerakan mahasiswa sedang berada pada puncaknya, masjid Mardliyyah dikenal sebagi masjid pergerakn. “Setiap aktivis di Jogja, kalau tidak kenal dengan Mardliyyah, ibarat orang Jakarta tapi tidak kenal Monas,” ujar Yusuf Maulana, salah satu mantan aktivis pada waktu itu.
Pria yang kini berprofesi sebagai editor pada sebuah penerbit ini menambahkan, diperkirakan sejak tahun 1980, Masjid Mardliyyah sudah hidup dengan kegiatan-kegiatan keIslaman. Bahkan masjid yang dibangun sekitar tahun 1968 ini, bisa mempertemukan semua aktivis pada waktu itu.
Menurut Yusuf, Masjid Mardliyyah memang sudah terkenal sebagi masjid filantropis (kemanusiaan). “Sudah lama Masjid Mardliyyah terkenal dengan donor darahnya. Sehingga Masjid Mardliyyah tidak begitu menjadi musuh masyarakat pada waktu itu karena aktivitasnya yang dekat dengan mahasiswa, karena penduduk sekitar dan rumah sakit merasa terbantu dengan aktivitas itu. Kita bisa bandingkan, bahwa ada masjid-masjid yang disebut sebagai kantong pergeraka. Dua diantaranya itu dicap sebagi kelompok fundamentalis. Tapi Mardliyyah, meskipun orang tahusebagi masjid pergerakan, tapi relatif masih bisa diterima karena kegiatan filantropis sumber darah itu,” jelas dia.
Hal serupa dituturkan Paryono, yang pernah menjabat sebagi takmir Masjid Mardliyyah hingga tahun 2007. Paryono yang seringkali mengisi kajian keIslaman di radio ini menceritakan awal mula adanya aktivitas donor darah di Masjid Mardliyyah. “Waktu itu ada takmir yang sakit dan butuh darah, tapi persediaan darah di PMI tidak memadai. Akhirnya oleh PMI diberi sebuah kertas kepada takmir itu untuk mencari pendonor. Timbul inisiatif dari beberapa pengurus untuk mengumumkannya di Masjid. Waktu itu, kalau tidak salah 20-25 orang mendaftar sebagi pendonor,” kenang Paryono.
Sejak saat itu, lanjut Paryono, aktivitas ini mulai dikembangkan ke masjid lain di Yogyakarta, sebagi antisipasi jika di Masjid Mardliyyah sedang tidak ada yang bersedia menjadi pendonor. “Sampai saat ini, jamaah Masjid Mardliyyah sudah sampai tingkat kabupaten, dan Alhamdulillah sampai saat ini selalu ada pendonor, “ujar Paryono yang rutin menjadi pendonor setiap tiga bulan sekali.
Ibarat hutang budi, pasien atau keluarga pasien sendiri seringkali mengubungi pendonor untuk mengucapkan terimakasih., “Kadang saya ditelpon, saya tidak kenal siapa, dia bilang terimakasih sudah menolong. Ada banyak yang begitu. Malah saking seringnya berinteraksi, kami sudah seperti saudara. Kalau ada hajatan, saya sering diundang,” tambah Paryono.
Sebenarnya UGM saat ini telah memiliki masjid kampus yang baru. Namun keberadaan Masjid Mardliyyah sebagi pusat aktivitas tak tergantikan. “Meskipun masjid kampus yang baru bangunannya lebih bagus dan megah, tapi Mardliyyah tetap ramai dengan jama’ah. Masing-masing seolah punya jamaah sendiri, misalnya masjid baru menampung jamaah Kaliurang Timur, Mardliyyah kebagian Kaliurang Barat,” tandas Adhi.
Melihat bentuknya, memang kelihatan taka da yang istmewa dari masjid Mardliyyah. Sebuah masjid yang bersahaja, dengan bangunan tua yang tampilan mukaya nyaris tidak terlihat dari jalan raya, karena tertutup beberapa pohon di bagian depan. Halamannya cukup luas, sehingga sering dimanfaatkan sebagai lahan parker, khususnya bagi para pengunjung rumah sakit. “Pemasukannya lumayan, bisa Rp. 600 ribu per pekan, untuk kas masjid,” jelas Adhi.
Kesan tua semakin terasa jika kita masuk kedalamnya. Pada bagian samping kanan, terdapat beberap ruang yang difungsikan sebagai sekretariat takmir dan asrama bagi para pengurusnya. Melewati lorong-lorongnya, terasa kuat nuansa bangunan tua. Wajar, jika masjid yang pada awalnya dibangun dengan biaya Rp 2 juta dari seorang donator ini direncanakan akan segera di renovasi.
Meski tak istimewa secaa fisik, masjid ini hidup secara aktivitas. Salah satu acara unggulannya adalah Kajian Rutin Pagi Hari yang dilaksanakan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Acara ta’lim yang terselenggara sejak tahun 1990 an itu selalu dipadati jamaah. Beberapa mubaligh ternama mengisi acara ini. “Sekitar seratusan jamaah hadir di sini. Sejak tahun 2010, bekerja sama dengan radiopengajian.com, acara ini kami siarkan secara streaming di internet, sehingga orang lain dari belahan bumi manapun bisa menyimaknya, “tambah Adhi.
Tarbawi

















